Tigor Abadi Pijarkan Matahari

Melangkah Untuk Mencari Arti Kehidupan Yang Sebenarnya

Indahnya Saling Peduli dan Kebersamaan di Bantaran Sungai Bengawan Solo 17 Februari 2010

Filed under: Sebuah Kisah — Tigor Abadi Pijarkan Matahari @ 5:26 PM

Pagi itu matahari engan bersinar, langit redup di selimuti mendung yang sangat tebal. hingga tiba guyuran hujan yang sangat deras. membasahi sebuah kampung kecil yang ada di sebuah bantaran sungai bengawan solo. sore hari pun hujan belum reda padahal hujan sudah berlangsung sejak siang hari.Hingga menjelang malam Hujan Pun belum berhenti.  beberapa  warga  di salah satu rumah  penduduk untuk mengawasi debet air  sungai bengawan solo Sampai larut malam . Setelah menunggu debet air  bengawan solo ternyata debet air meningkatnya tidak banyak. kemudian mereka memutuskan untuk beristirahat. Mereka pulang  kerumah masing~masing untuk beristirahat.

Tak lama kemudian di Sela mereka  tidur ada seorang Ibu terjaga dan kelaur dari rumah Untuk Buang air kecil Karena kamar  mandinya di  luar  rumah.  dia kaget setelah menginjak kan kakinya  keluar  rumah terasa dingin dan dan basah. Ternyata air sungai bengawan solo meluap di saat mereka tertidur lelap. tanpa pikir  panjang si ibu membangunkan seisi  rumah untuk megangkat perkakasnya  ke tanggul yang tepat berada di depan rumahnya  kemudian salah satu warga membangunkan seisi kampung dengan memukul kenthongan pertanda banjir. Warga mulai terbangun dan berbondong-bondong menyelamatkan barang -barang untuk di bawa ke atas  tanggul.  Tapi air  trus  megucur  sangat  deras  dan  barang-barang  warga  pun banyak  yang  gak sempat  untuk di selamatkan karena debet air  meningkat begitu sangat  cepat . Warga saling membantu dengan mengangkat barang-barang milik tetangga dan sebagia  lagi membuat  tenda dia tas  tanggul untuk  berteduh karena keadaan masih hujan. balita -balita tergeletak diatas tikar  di mana keadan jalan tanggul yang sangat basah yang memungkinkan balita bisa sakit.

Semua warga sudah  berada di atas  tanggul untuk menanti airnya surut tapi airnya malah terus  bertambah dan hampir meluap diatas tanggul. Tapi di dalam bencana in i sebelum bantuan datang . Semua warga  masih memperdulikan orang yang ada di sekirnya . Mereka saling menutup kekurangan dengan saling meberikan makanan, selimut, ataupun obat`obatan kepada yang membutuhkan. Karena mengingat kebersamaan dan saling peduli.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s